AIDS: Akibat Itunya Dipakai Sembarangan

Penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan penyakit yang secara perlahan menurunkan kekebalan dan daya tahan tubuh seseorang sehingga tubuhnya akan digerogoti penyakit yang seharusnya bisa diobati pada keadaan normal (bebas HIV).


HIV/AIDS pertama kali diidentifikasi pada kalangan gay di San Francisco tahun 1981, lalu CDC (Centers of Disesase Control and Prevention) pada Desember 2002 menyatakan bahwa budaya seks bebas menjadi sarana penyebaran HIV/AIDS secara cepat.

Di Indonesia, kasus AIDS pertama kali ditemukan di Denpasar, pada seorang turis Belanda dengan kecenderungan homoseksual yang kemudian meninggal April 1987. Orang Indonesia pertama yang meninggal dalam kondisi AIDS juga dilaporkan di Bali, Juni 1988. Data KPAN menunjukkan, tahun 1987 jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia masih 5 kasus. Dan hanya dalam tempo 10 tahun, bertambah menjadi 44 kasus. Tetapi sejak 2007, kasus AIDS tiba-tiba melonjak menjadi 2.947 dan periode Juni 2009, meningkat hingga delapan kali lipat menjadi 17.699 kasus.(www.bkkbn.or.id/18/11/09).

Dalam menanggapi merebaknya kasus HIV/AIDS, pemerintah membentuk Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) untuk menyusun kebijakan berupa strategi penanggulangan HIV/AIDS. Namun pada prakteknya program-program yang diadakan masih merujuk pada UNAIDS (United Nations Programme on HIV/AIDS) dan WHO (World Health Organization).

Diantara program-program penanggulangan HIV/AIDS yang dilakukan yaitu program KONDOMISASI, substitusi metadon dan pengadaan jarum suntik steril. Ratusan miliar rupiah dikeluarkan untuk program-program tersebut, namun ironisnya laju peningkatan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) tak juga menurun, bahkan terjadi peningkatan signifikan ODHA di beberapa daerah.

Sangat memprihatinkan, musyawarah para ilmuan yang kerap kali diselenggarakan di berbagai belahan dunia, sama sekali tak pernah memberikan rekomendasi solusi untuk memberantas akar permasalahannya yakni mencegah perilaku dan kehidupan seks bebas. Konferensi-konferensi internasional yang membahas HIV/AIDS hanya berkutat pada isu-isu stigma masyarakat, diskriminasi sosial dan pelayanan bagi ODHA yang cenderung memanjakan pengidap AIDS, tanpa sedikitpun membahas mengenai pencegahan seks bebas yang notabene merupakan penyebab utama merebaknya HIV/AIDS selain penggunaan NAPZA.


KONDOMISASI: (bermaksud) Memecahakan masalah, dengan masalah, tambah masalah


Salah satu program yang direkomendasikan UNAIDS pada KPAN yaitu kampanye penggunaan kondom di masyarakat melalui berbagai macam media promosi, pembagian kondom gratis di tempat umum, ilustrasi penggunaan kondom di sekolah-sekolah, komunitas remaja dan perguruan tinggi serta kemudahan akses membeli kondom.

Terlepas dari tujuan dibentuknya program ini, kondomisasi berdampak sangat negatif di masyarakat, apalagi masyarakat Indonesia yang tidak berpendidikan, karena dibalik program ini tersirat sebuah pesan “Ayo semua orang, lakukanlah seks bebas sesukamu, aman kok!” yang justru memfasilitasi seks bebas yang merupakan sarana penularan HIV/AIDS.

Dari berbagai penelitian mengenai kondom, terbukti bahwa kondom tidak dapat mencegah transmisi HIV, hal ini dikarenakan kondom terbuat dari bahan karet (lateks) yaitu suatu hidrokarbon dengan polymerase yang secara struktural memiliki serat dan berpori-pori. Pada mikroskop electron didapatkan diameter tiap pori-pori kondom sebesar 70 mikron atau 700 kali lebih besar daripada ukuran HIV-1 yang hanya berdiameter 0,1 mikron. Oleh karena itu, dengan dalih menjadi penyelamat generasi bangsa ini, ironisnya kondomisasi justru menstimulasi masyarakat untuk berserks bebas dan mempercepat penyebaran HIV/AIDS.

Tidak seperti penyakit-penyakit menular yang lain, HIV/AIDS tidak bisa selesai hanya dengan tinjauan kacamata medis saja melainkan perlu ada pendekatan komprehensif dari sisi moral dan hukum dalam penyelesaiannya. Selama ini, program-program yang ada belum melihat kenyataan bahwa merebaknya kasus HIV/AIDS disebabkan karena bobroknya moral masyarakat (seks bebas, keterlibatan NAPZA). Untuk itu, upaya preventif seharusnya berfokus pada eliminasi praktik seks bebas, media-media pornografi, pornoaksi, restriksi tempat-tempat prostitusi dan sanksi tegas pada pelaku prostitusi dan NAPZA beserta jaringannya. Memang, solusi tersebut terkesan sangat normatif, terlebih tidak sedikit masyarakat Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada industri prostitusi, namun itulah tantangan pemerintah untuk menyediakan pekerjaan substitusi yang lebih terhormat.

Semoga pemberantasan HIV/AIDS di Indonesia menemukan titik cerahnya. Sebagai tenaga kesehatan tentu kita mengenal edukasi ABCD dalam prevensi HIV/AIDS yaitu dimulai dengan Abstinece atau puasa dari kebebasan hubungan seksual, diikuti dengan Be Faithful atau bersikap setia pada pasangan yang diwujudkan dengan komitmen untuk menikah dan pilihan terakhir barulah penggunaan Condom yang dibarengi avoid Drugs (menghindari obat-obat terlarang).

Source